|
Daftar Isi :
-
Pendahuluan
-
TUHAN dan Nasib
-
Peranan Agama dan
Sukses
-
Anda
Dilahirkan untuk Sukses
-
Bagaimana cara
Menciptakan Sukses?
-
Manusia sebagai
Produk Lingkungan
-
Kuasa Kepercayaan
-
5 Langkah untuk
Meningkatkan Citra dan Kepercayaan Diri
-
Menjadi The Best
Achiever
-
Goal & Result
Oriented
-
2 Elemen Sukses
-
Berkompetisi dengan
Diri Sendiri
-
Think before you act
-
Hemat Pangkal Kaya
-
Strategi Sukses
Studi
-
Strategi
Sukses Karier
-
Strategi Sukses
Bisnis
-
Easy Come Easy Go
-
Jangan Mengharapkan
Hadiah Tanpa Keringat
-
Hindari “Beggar
Mentality”
-
Harta Warisan tanpa
ilmu dan budi sama dengan Ludes
-
Kekuasaan tanpa Hati
Nurani sama dengan Tirani
-
Hidup Tidak Seindah
Puisi
-
Menabur belum tentu
menuai
-
Benar belum tentu
menang. Salah belum tentu kalah
-
Hikmat orang miskin
dihina orang
-
Air susu dibalas
dengan air tuba
-
Pagar bisa saja
makan tanaman
-
Macan tidak mungkin
memangsa anaknya
-
Manfaat Berpikir
Negatif
-
Semua manusia
bertendensi jahat
-
Orang bodoh lebih
banyak dari orang pandai
-
Hindari orang yang
tidak bisa atau tidak mau berpikir
-
Semua manusia egois
-
Jangan percayai
siapapun juga
-
Harta sama dengan
hati
-
Jangan mudah
percaya, dan jangan terus percaya
-
Jangan terpola dan
monoton
-
Jangan terukur,
teruslah dinamis
-
Jangan salah pilih
jalan
-
Waspadalah terhadap
si “Macan Tertawa”
-
Waspadalah terhadap
si “Air Mata Buaya”
-
Perilaku Negatof
-
Pelajaran Berpikir
-
Berpikir Kritis
-
Berpikir Inovatif
-
Latihan Ketegasan
-
Tips: Failure &
Adversity
-
Penutup : Take
Command, make it happen, now!
Sinopsis :
|
 |
Sesuai dengan
judulnya, buku ini akan mengajarkan hal yang Meritokratis-Etis
untuk mencapai sukses, baik sukses studi, karier, bisnis, maupun
sosial.
No Pain No Gain,
secara bebas bisa diterjemahkan sebagai "tidak ada upaya,
tidak ada hasil" , atau "tidak berjuang, tidak
berprestasi", atau "ada harga, ada rupa" , atau
seperti kata peribahasa kita,
"Berakit-rakit ke hulu, berenang renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
|
Pengalaman hidup saya
pribadi mengajarkan bahwa hidup itu adalah perjuangan; bahwa untuk
mencapai sukses dan kemenangan tidak ada jalan pintas, apalagi jalan
mudah, "Sukses itu tidak jatuh dari langit,
melainkan harus diperjuangkan dan dipertahankan, baik dengan keringat,
air mata, bahkan darah, secara terus-menerus!"
Sebagaimana perang dan
bisnis memerlukan strategi, demikian juga sukses pribadi memerlukan
strategi!.
Saya tidak percaya
bahwa ada kemenangan dan keberhasilan mulia yang dapat diperoleh tanpa
perjuangan, strategi, dan pengorbanan. Karena itu saya sangat
mengkritik perilaku yang utopis, yang menggampangkan hidup, dan atau
perilaku yang acuh tak acuh terhadap hidup. Bagi saya, "Hidup tidak
seindah puisi," dan juga tidak semanis seperti yang diajarkan
orang dalam buku atau seminar "Positive Thinking", atau yang
dikotbahkan rohaniwan.
Saya tidak percaya
akan pengajaran yang mengatakan bahwa manusia itu baik, dan akan
bertendensi baik. Menurut saya, “Man is
a thinking animal. When he/she stops thinking, he/she starts
roaring!”. Menurut saya, manusia itu cenderung berbuat jahat, dan
mudah belajar hal yang buruk dibandingkan dengan belajar perkara yang
baik dan mulia.
Perhatikan riwayat
hidup manusia mulai sejak bayi hingga dewasa, adakah orangtua yang
mengajarkannya berbuat jahat, misalnya mengarnbil hak saudaranya, atau
berdusta? Namun apakah faktanya? Bukankah sejak kanak-kanak telah
muncul sifat dan perilaku egois, tamak, dan pendusta? Bayangkan, apa
jadinya dengan perilaku manusia, jika tidak ada pendidikan moral dan
ketuhanan?
Jika Anda bertanya
kepada saya, mengapa sampai terjadi hal yang demikian, yakni sekalipun
manusia telah dididik dengan etika dan moral, namun tetap cenderung
berbuat jahat?
Jawaban saya adalah,
karena sejak kejatuhan Adam dan Hawa, lingkungan hidup kita memang
sudah menjadi rusak dan polutif. Sekalipun kita sering mendengar
nasihat dan pengajaran tentang moral dan etika, namun kita sangat
jarang melihat teladannya. Itulah sebabnya, sekalipun kita tahu hal
yang baik, atau sekalipun kita tidak diajar untuk berbuat jahat, namun
kita melakukan hal yang jahat, karena kita meniru perilaku lingkungan
kita, yakni keluarga, tetangga, teman, guru, dan masyarakat umum.
Karena itu, dalam
pelajaran ini, saya pun mengajarkan bahwa jika Anda ingin mengubah
diri Anda, Anda harus bersedia mengubah lingkungan hidup Anda; jika
tidak, Anda akan sangat sulit bisa berubah, sama seperti orang yang
hendak memanjat tebing namun dengan memikul beban seratus kilogram
beras..
Bayangkan, apa jadinya dengan nasib Anda jika Anda ingin
mempunyai perilaku gemar belajar, rajin, ambisius, optimis, namun
keluarga Anda atau teman-teman Anda selalu mengejek dan mematahkan
semangat Anda, dengan 'mengindoktrinasikan' falsafah mereka yang
ngawur, misalnya : "Alaah, jangan aneh-aneh, kamu ini harus tahu diri,
jangan seperti pungguk merindukan bulan. Kita ini keluarga miskin,
sejak turun-temurun jadi orang kecil.. Kok berani-beraninya karnu
mimpi mau jadi orang kaya!?”
Saya ingatkan bahwa
kita harus berpikir Meritokratis : Jika lingkungan hidup kita tidak
kondusif terhadap sukses, Anda harus berani mengubahnya, baik dengan
meyakinkan lingkungan Anda untuk berubah, jika Anda mampu, atau keluar
dari lingkungan itu, dan mencari lingkungan psikologis lain yang
memudahkan pencapaian tujuan hidup Anda.
Harap jangan heran
jika saya menganjurkan, "Lebih baik Anda tidak mempunyai teman seorang pun,
daripada mempunyai teman yang negatif dan tidak kondusif terhadap
pencapaian sukses Anda!" Bahkan lebih ekstrem
lagi, "Tinggalkanlah rumah Anda dan
pergi merantau ke tempat yang kondusif!", jika keluarga
Anda menghambat pencapaian cita-cita Anda. Kelak jika Anda sudah
sukses dan sudah cukup kuat untuk membuktikan kebenaran keyakinan
Anda, barulah Anda kembali untuk mengajak mereka.
Jika tidak, jika Anda
tetap bertahan di tempat yang kumuh dan negatif, Anda akan tercemar,
dan tidak akan pernah 'naik kelas'. Sungguh!
Saya juga mengajarkan
keyakinan saya bahwa semua manusia itu egois, dan hanya mau
berinterrelasi dengan orang yang menguntungkannya; karena itu, jika
kita ingin berhubungan panjang dengan orang lain, harus berlandaskan
azas 'mutual benefit' atau saling menguntungkan; jika tidak, maka
hubungan itu tidak akan berlangsung lama, karena siapa yang hanya
ingin dirugikan?
Coba Anda perhatikan,
jika Anda miskin -apalagi jika sudah pernah meminjam uang kepada orang
lain- maka banyak orang akan menghindari Anda; Jika Anda datang
mengunjungi rumah orang kaya, sekalipun ia adalah saudara Anda, maka
kehadiran Anda menimbulkan rasa was-was dalam hati orang yang Anda
kunjungi, dan timbul prasangka, "Wah si
miskin itu datang lagi, jangan-jangan mau pinjam uang!",
sekalipun mungkin Anda tidak bermaksud demikian. Bayangkan, apa
jadinya jika sudah miskin, Anda sering mengemis belas kasihan dan
pertolongan orang lain, maka Anda akan dianggap seperti penyakit pes!
Saya akan mengajarkan
bahwa, sekalipun miskin, Anda tidak akan dihina orang, jika Anda mampu
membawa diri, yakni jika Anda menjadi orang yang berkarakter.
Pengajaran pertama
saya ialah: Jangan biarkan ada orang lain yang tahu tentang kelemahan
dan kesusahan Anda, siapa pun adanya dia (kecuali suaml, lstri, atau
anak Anda tentunya) sebab mereka tidak akan menolong, dan hanya
merendahkan Anda! Ibaratnya, sekalipun
Anda belum makan tiga hari, gigit-gigitlah tusuk gigi dan
bertingkahlah seolah-olah Anda sudah kenyang!
Pelajaran kedua ialah:
Bertekad keraslah dan berjuanglah secara strategis untuk mengubah
nasib Anda, dan mencapai sukses, melalui penerapan filosofi "No Pain
No Gain" ini; Anda harus hanya punya satu komitmen dan satu tujuan
akhir, yakni sukses, berapa pun 'harga yang harus Anda bayar'!
Jika Anda mau menuruti
nasihat saya, saya pastikan bahwa Anda akan mencapai apa saja yang
ingin Anda wujudkan; sebaliknya, jika Anda berperilaku "HHTA" (hangat
hangat tahi ayam), salah Anda sendiri jika Anda tidak mencapai apa
pun, dan tidak menjadi siapa pun dalam dunia yang sangat kompetitif
ini.
Anda akan belajar dan
melakukan tata cara untuk mencapai tujuan hidup Anda, dan mencapai
sukses, siapa pun adanya Anda, dan apa pun latar belakang hidup Anda.
Kita tidak akan belajar tentang hal-hal yang abstrak atau yang
relatif, atau pengalaman hidup individual, atau kepercayaan utopis;
melainkan suatu program terencana yang sistematis untuk mencapai
target hidup.
Saya sampaikan hal
ini, karena saya pernah membaca komentar seorang konglomerat terbesar
Indonesia di sebuah surat kabar nasional ketika ditanya tentang
riwayat suksesnya, "Saya sendiri tidak tahu
mengapa saya sukses, rasanya karena nasib baik. Sebab tanpa nasib
baik, biar Anda mempunyai pendidikan tinggi atau sepandai profesor,
tetap tidak akan bisa sukses."
Para pembaca, kita
tidak belajar atau mendapat pengajaran apapun dari pernyataan seperti
itu, dan saya tidak akan mengajarkannya, karena beberapa alasan:
-
Saya
tidak mau percaya bahwa nasib baik menentukan kesuksesan seseorang,
sebab jika demikian, strategi dan upaya menjadi tidak ada gunanya,
lebih baik kita menunggu datangnya nasib baik, sebab untuk apa kita
membanting tulang jika belum tentu bahwa nasib kita akan baik? Dan
yang lebih parah, banyak orang akan mendiskreditkan TUHAN sebagai
Oknum yang pilih kasih dan tidak adil, karena tidak menganugerahkan
nasib baik dan keberuntungan secara merata kepada kita.
-
Gelar
kesarjanaan atau jenjang pendidikan yang tinggi tidak identik dengan
kepandaian. Orang yang tinggi jenjang pendidikannya atau menjadi
sarjana, belum tentu pandai, sebab ada orang yang bersekolah hanya
untuk mendapat ijazah, atau hanya untuk mendapat ilmu; jadi sangat
tergantung dari tiap individu; itulah sebabnya banyak sarjana yang
menganggur karena tidak siap pakai.
-
Definisi
sukses seorang profesor dengan seorang pengusaha tidak bisa
dibandingkan, karena berbeda. Kita tidak bisa mengukur kesuksesan
seseorang hanya dari kekayaannya, melainkan dari pencapaian cita-cita
dan kepuasan yang dialaminya dari pencapaian cita-cita tersebut; sebab
jika semua orang harus menjadi konglomerat atau pengusaha besar, atau
orang kaya -untuk bisa dikatakan sukses- lantas siapa yang akan
menjadi guru?
-
Saya
yakin bahwa konglomerat itu tahu bahwa bukan hanya nasib baik yang
membuatnya sukses, namun juga determinasi, strategi, kerja keras,
ketekunan, dan hidup hemat; hanya saja ia tidak tahu bagaimana cara
menjabarkannya; atau ia memang sengaja ingin menjadikan agar kiat
sukses tetap sebagai misteri?
Nah, dengan demikian,
kita semua mempunyai kesempatan, hak, dan kewajiban yang proporsional
untuk menjadi sukses, tanpa peduli terhadap 'faktor x' yang di luar
batas wewenang dan kontrol kita, dan itu akan lebih menggairahkan,
bukan?
Jadi jika kita
rangkum, tujuan utama dan tema sentral dari pelajaran ini adalah
menularkan hasil riset saya dalam bidang manajemen bisnis yang saya
namakan MANAJEMEN MERITOKRATIS (manajemen yang mengacu hanya kepada
hasil, manfaat, produktivitas, prestasi), kedalam kehidupan
praktis sehari-hari, di segala aspek, baik jasmani maupun rohani. Saya
sangat menekankan bahwa untuk bisa sukses -apalagi agar tetap bisa
sukses- kita harus selalu bisa memberi manfaat bagi orang lain, dan
dalam waktu yang bersamaan, mendapat manfaat dari orang lain.
Bahkan secara ekstrem
bisa saya katakan bahwa segala sesuatu yang kita pikirkan, rasakan,
lakukan, dan hasilkan, haruslah semua hal yang bermanfaat dan
menguntungkan; tidak boleh ada setiap menit yang berlalu begitu saja
secara sia-sia tanpa memberikan benefit-added, terhadap proses
pencapaian tujuan hidup kita.
Karena itu, segala
sesuatu -segala sesuatu, yakni apa saja, benda atau orang, kawan atau
lawan, bisnis atau non-bisnis, nyata atau abstrak, jasmani atau
rohani, kelihatan atau tidak kelihatan, duniawi atau akherat- yang
tidak bermanfaat bagi proses pencapaian tujuan hidup Anda, harus
dienyahkan! Jangan sungkan, jangan
gentar, dan jangan ragu!
Baik, kita akan segera
mulai pelajaran kita. Namun sekali lagi, Anda harus tahu bahwa saya
beritikad dan bertekad baik dalam menyampaikan pelajaran ini; saya
ingin, Anda bukan hanya mengetahui, namun juga melakukan apa yang Anda
pelajari, dan agar Anda bisa meraih kesuksesan hidup Anda, siapa pun
dan apa pun latar belakang Anda.
Karena itu, jika kelak
ada kritikan, atau saran, atau kesaksian, atas implementasi pelajaran
ini, mohon disampaikan ke alamat email saya, agar saya bisa
mengoreksi, dan merevisi buku saya sehingga memberi manfaat yang lebih
besar bagi banyak orang pada terbitan edisi selanjutnya.
Akhirnya, saya
menghaturkan terima kasih atas kepercayaan Anda, dan selamat menikmati
perjalanan sukses Anda!
BETTER IS NOT ENOUGH
WHEN GETTING THE BEST IS POSIBLE
|